07 Juli 2011

Skenario Drama Penculikan Vokalis ...


“Gue dong, suara pas-pasan tapi bisa kondang mampus. Jaman serba hura-hura begini mana bisa cuma modal suara doang. Ada juga eliminasi-eliminasi tuh di ajang absurd yang absolutely nggak menjanjikan. Belum juga sebulan nampang, udah pulang kampung aja itu para kontestan. Kesian banget nggak sih?” omel Zixi sambil mencicip sedikit demi sedikit cocktail yang entah sudah gelas ke berapa ini.

“Haha… Nyinyir ah lo. Mereka sama lo kan beda kasta bo.” Cita, yang pendatang baru, menimpali.

“Jelaslah. Gue orbitan mana mereka asalnya darimana”

“Tapi gue heran deh, kok bisa ya suara cempreng kayak lo digandrungi fans fanatik seabrek-abrek. Padahal suara lo kan keren di record doang. Itu juga nggak lepas dari segala efek dan editing mati-matian. Keliatan banget pas lo live, duh bo’ gue suka merinding dengernya, takut banget kalo pita suara lo tiba-tiba putus.”

“Sialan lo! Itu sih gimana pinter-pinternya gue aja yang bikin kemasan, trendsetter loh gue ini. “

“Apaan… Itu karna bego-begonya mereka aja yang mau-maunya jadi follower lo. Padahal jelas banget body lo tu nggak ada menonjol-menonjolnya, rata depan belakang, muka lo apa lagi, kayak beruk penyet, demek. Haha…”

“Sirik aja sih lo. Lo liat kan nggak butuh waktu lama sejak debut band gue trus gue jadi icon dimana-mana. Nggak lama gue update style, langsung deh pengikut udah bertebaran dimana-mana.”

“Ye… itu sih karna pengasihan wardrobe aja kale…”

“Sekata lo deh.  Kalo gue nggak berani ‘tampil’ di stage, nggak berani explore kemasan di public gimana minat itu brand make gue.”

“Maksud lo tampil apaan?”

“Yang kayak gini nih yang suka bikin penyanyi pendatang baru cuma nongol seminggu. Kayak elo tu, naif dipiara, bawaan kampung tinggal aja di kampung.”

“Kampret lo Xi! Jadi maksud lo tampil itu gimana? Pamer paha gitu? Pamer belahan? Atau manggung nggak pake celana?”

“Suka-suka lo deh ah. Gue mau balik. Asli nih party nggak bisa bikin gue mabok kayak biasanya. Isinya artis-artis naif kayak lo semua.”

“Ye, mending juga kita. Daripada elo sok naif di public, aslinya ngeri abis.”

“Sepengumuman-pengumuman lo deh.”

Akhirnya, sang vokalis itu keluar dari kafe tempatnya diundang party oleh teman-teman artis pendatang baru. Si Zixi berdiri di tepi jalan untuk menunggu taksi. Kok nggak bawa mobil ya? Yah anggep aja mobilnya lagi dipake buat nganter kawinan.

Selanjutnya, mengikuti skenario media massa, maka saat menunggu taksi inilah si Zixi diculik.

“Neng, mau nggak kita culik?” kata salah seorang pria yang menongolkan kepala di jendela Civic.

“Eyakampuuunn… lo bego atau idiot sih? Berani nyulik gue sama aja lo berurusan sama seluruh penduduk Indonesia. Nggak ngerti apa gue ini siapa?”

“Enggak, makanya itu yuk mari ikutan akang, biar Neng bisa jelasin.”

Zixi begitu saja dipaksa masuk ke dalam mobil oleh ketiga lelaki yang tergabung dalam satuan penculik nggak-liat-liat-dulu-siapa-yang-mau-diculik.

“Nih neng, sari kacang ijo. Bagus buat kesehatan,” kata salah seorang penculik sambil menyodorkan sekotak minuman kacang hijau kepada Zixi.

As you see, Zixi duduk baik-baik di dalam mobil. Cuma pas adegan masuk mobilnya tadi yang dipaksa.

“Kalian serius nih nyulik gue? Kok baik gini?” tanya Zixi sambil menenggak sari kacang ijonya.

“Tadinya sih kita mau ngapa-ngapain Neng gitu. Tapi setelah kita perhatiin badan Neng yang kayak nggak makan seabad gitu, kita jadi kasian ngeliatnya.”

“Eh, asli sialan lo ni ya. Kerempeng-kerempeng begini tapi gue populer ngerti nggak lo.”

“Enggak…” jawab penculik serentak.

“Gue ini vokalis band Sera. Pada punya tipi nggak sih? Dengerin radio? Baca Koran?”

“Oalah… Situ vokalis ya Neng. Duh, artis dong ya. Ya udah deh Neng, kita turunin disini aja. Atau mau kita anter pulang Neng?”

“Yaudah turunin depan gang rumah gue aja. Nanggung juga kalo musti cari taksi, lumayan dapet tumpangan ini. eh tapi bentar, lo kan tadi niatnya mau nyulik nih, masak iya gue turun dengan badan masih mulus gini?”

“Trus maunya Neng gimana? Kita nggak mau kalo suruh ngapa-ngapain Neng. Soalnya situ artis, berduit, jadinya pasti kita kalah.”

“Yaudah lo apain kek gue. Gampar atau gimana gitu biar ada lebam-lebam dikit.”

“Gini aja deh, nih pake sepatu pantofel saya. Lumayan keras, buat nimpuk jidat juga pasti biru. Tapi Neng timpuk sendiri ya. Kita masih kasian sama badan Neng yang kerempeng ini.”

“Ni orang, sama aja kayak si artis naif. Demen banget ngata-ngatain gue kerempeng. Yaudah sini!”

PLAK! PENG!

“Nah kalo gini kan gue bisa bikin pengumuman kalo gue diculik, dibabakbelurin dan hampir diapa-apain sama tersangka. Sensasi datang, order nampang.” Kata Zixi setelah turun dari mobil si penculik.

***

Di halte bus dekat universitas blablabla…

“Liat nih twit keyboardisnya Sera. ‘Woy! Semuaa plis cari Zixi!! Ada macem2 sama dia, bakal gua habisin sumpah!’ Idih, situ oke ya Mas?”
“Sadar nggak sih hairspray yang dia pake tu masuk ke daftar serentetan penyebab global warming?”


Headline news situs warta digital…

Diculik, Zixi ‘Sera’ Diduga Alami Pelecehan Seks
“Baru juga diduga, udah koar-koar aja nih media.”
“Maklum, nggak gitu nggak laku.”

Aktris SS Shock Dengar Zixi ‘Sera’ Diculik
“Lebay amat nih orang.”
“Maklum, bawaan sinetron.”


---------------------------------------------------------------------


Jadi ceritanya ini saya cuma pengen nulis sesuka-suka saya loh ya. Nggak ada protes dan segala macem pemutar balikan apalah. Soalnya cerita ini hanya fiktif belaka, jadi kalau ada kesamaan tokoh, karakter, cerita, nggak ada maksud apa-apa selain emang gatel aja pengen nulis =)
Seksian dan teriasin. Yuk marih…


Gambarnya minjem dari sini...

25 Juni 2011

Konsep "Pengen Berguna Buat Dia"



Tentang teman saya yang ingin berguna buat (mantan) pacarnya, tapi jatohnya garing karena terlalu menganggap penting hal-hal yang nggak penting :D

“Bayangin Ma, tiap pagi lho itu aku masakin bekal buat dia,” aku teman saya dengan nada hopeless. “Tapi dia nggak sadar seberapa gede pengorbanannya.”
Siapa suruh? Ya nggak pemirsa? Nyinyir ah…

Pada jaman dahulu kala…. Setengah jam sebelum kuliah dimulai, teman saya masih sempat memasak nasi goreng untuk partner relationshipnya. Ingat ya, setengah jam itu belum termasuk perjalanan menuju kampus, mengantarkan makanan ke fakultas seberang, bonus menunggu si partner keluar sambil pencet-pencet hape nggak jelas karena sekali missed-call aja nggak mempan bikin tuh laki buru-buru nyamperin teman saya. Tentu saja, ajaib sekali kalo dia sampe nggak telat masuk kuliah. Dan itu nggak cuma sekali. Repetitive. Rutin.

Bicara masalah tuntutan, sebenarnya partner teman saya itu sama sekali nggak minta buat dibikinin sarapan dengan menu beda-beda setiap harinya plus bumbu hal-hal yang musti dikorbanin demi terciptanya itu makanan. Lalu, demi apa? Demi mewujudkan slogan ini “pengen berguna buat dia.” Eleuuhh… so sweat nggak sih? Iya dong, ampe keringatan gitu masaknya. Haha… nggak, maksud saya disini baik kok, nggak nyinyir.

Nah, setelah bergulat dengan serentetan aktivitas (bisa dibilang pengorbanan) itu, tentu saja teman saya menaruh harapan atas usahanya yang –menurutnya- nggak gampang, mengingat teman saya bukan tipe wanita yang jeli dengan dapur.

“Biar dia makin sayang. Pengorbananku kan nggak sedikit. Harus bangun pagi-pagi, nyiapin ini itu, pake acara telat ngampus. Simpati dong dia pasti, trus makin sayang deh…”
Sekali lagi, itu hanya EKSPEKTASI. Murni ekspektasi. Kenyatannya?

Kalau orang sedang sibuk dengan segala urusannya yang rumit dan almost ga ada jeda istirahat bahkan di hari libur sekalipun, apa iya dia sempet mikir panjang saat menerima kotak bekal makanan dari pacarnya? Mengingat manusia berlabel pria nggak bakal ambil pusing cuma masalah sekotak nasi. Dikasih, makasih. Nggak dikasih, nggak minta belas kasih. Apalagi itu bukan hal baru, udah rutin dilakukan. Ironisnya si teman saya itu menaruh harapan yang sama untuk setiap kotak bekal cintanya, setiap hari, setiap pagi.

Tapi bukannya sacrifice itu wujud dari keseriusan kita dalam menjalin hubungan ya? Kalo yang berkorban cuma satu pihak dan pihak lain nganggep itu hal biasa, nggak ada nilai juangnya sama sekali, itu namanya bukan pengorbanan tapi dikorbankan J *abaikan

Jadi sebenarnya, untuk memenuhi “pengen berguna buat dia”, bukan dengan pengorbanan nggak penting yang dipenting-pentingin, hal absurd yang dispesial-spesialin kayak gitu.

Apa? Hal absurd yang dispesial-spesialin? Ya kayak yang tadi itu, nggak usah dibekalin bisa kali sarapan sendiri. Nggak begitu butuh sekotak nasi dengan pengorbanan bertubi-tubi.

Atau kasus yang seperti ini. Partner kamu adalah maniak game, dan dia bilang ke kamu pengen banget punya game X. Kamu bela-belain cari itu master, tanya sana-sini, download gagal mulu, singgah dari satu warnet ke warnet lain ngga dapet juga, sampai keliling dunia naik kuda poni masih juga belum dapet. PADAHAL kenalan gamers partner kamu itu bejibun. Tinggal bilang “Minta master game X dong” beres segala urusan. 

Sacrifice banget nggak sih? Iya, tapi GARING. Sama kayak kasus sekotak bekal cinta tadi. Mau makan ya udah makan aja, nggak dimasakin juga nggak bakal ngaruh sama masa depan. #loh. Lagian nggak jaminan juga itu bekal dimakan sendiri. Bisa jadi dibagi-bagiin temen dengan alasan ngga enak makan sendiri. Who knows?

Nah, lain kali kalo bermaksud pengen bantu-bantu partner, pengen selalu ada buat partner, atau apalah istilahnya, sebaiknya tanya-tanya dulu. Alangkah lebih baik menjalin komunikasi secara kasat mata daripada telepati. Kecuali kalau ladies sekalian berpartner ahli baca pikiran.

Jadi gimana? Konsep “pengen berguna buat dia” yang sebenarnya simple jadi keliatan rumit kan karena ulah para gegadis sendiri yang ke-GR-an dan over-hoping kan?


NB : Status teman saya ini saat bercerita : sudah sadar betapa dalam menjalin relationship itu cinta saja tidak cukup


22 April 2011

Kalo orang pas-pasan cuma bisa nganga, yang miskin bisa ngapain?

Bisa nganga? Maksudnya? Ya itu nganga…
Melihat bergelintiran fenomena menggelitik di segala jenis situs jejaring sosial, saya jadi gatal buat bikin tulisan yang rada-rada ngelantur =)
Orang pas-pasan tu ya, nggak boleh ngarep bisa twitteran via UberSocial.  Facebookan via Blackbery juga. Except ngerubah aplikasi dulu pake PC. Gimana pinter-pinternya manfaatin deh. Tapi masih untung loh ya itu masih ada yang dimanfaatin, masih ada aplikasi yang, yah seenggaknya bisa lah ngibulin orang seduniamaya. Meskipun aslinya lumayan nganga kalo ngeliatin orang sebelahnya pencet-pencet BB.
Trus-trus, BBM? Jah… Ini lagi. Ada juga Barang-Barang Minjem noh seabrek.
Kalo foursquare? Alah, orang pas-pasan bisa kemana sih? Mentok juga ngemall, modal parkir doang. Tinggian dikit beli teh gelas oren. Selesai, marebong bisa tu kembali seceng. Eh, tapi kuliner bisa juga ding, ya itu sih kalo ada yang traktir. Kalo enggak? Nganga udah…
Ngeblog? Lhah… Koneksi internetnya dari mana? Lagian apa juga yang mau dicritain? Pengalaman trip ke luar negeri? Protes keras ke pemerintah? Blow up idealisme? Bisa makan ayam bakar tiga hari sekali aja udah syukur.
Trus ni ya, orang pas-pasan juga nggak boleh tu upload2 foto begayah. Bukannya kenapa-kenapa sih, Cuma antisipasi aja. Soalnya orang-orang yang suka bersembunyi di balik status, status seeker, status seeking atau apalah namanya, itu asli ngeri obrolannya kalo udah di belakang.
Orang pas-pasan mah nganga aja kalo ada yang tuker-tukeran PIN, check-in sana sini, foto-fotoan ini itu. Ngeksis bukan kapasitasnya.

Trus kalo orang pas-pasan Cuma bisa nganga, yang miskin bisa ngapain?
Bisa apa aja dong… Bisa mulung, bisa nguli, bisa ngamen, bisa-bisaaaaaa ajah.
Ada yang salah ya dengan orang miskin?
Banyak…
Orang miskin banyak salahnya makanya pendidikannya nggak boleh tinggi-tinggi. Ya kecuali sih kalo ada gratisan
Makan juga nggak boleh ke restoran mahal. Ya kecuali sih kalo ada yang bayarin.
Pegang duit banyak? Nggak boleh juga dong. Ya kecuali sih itu bukan duit sendiri.
Trus kalo mau kemana-mana ni ya, orang miskin bagiannya yang ekonomi-ekonomi aja. Eh tapi, orang miskin mana punya duit ya buat kemana-mana? Ah, kasian.
Ke bank juga cuma boleh minjem, ngajuin kredit, nggak boleh banget tu ngarep-ngarep dapet bunga. Apalagi undian mobil-mobilan dan seperanakannya itu.
Pusing nggak sih jadi orang miskin? Gembleng B*dr*x aja udah. Masuk angin? Kerokin laaah... Nggak usah manja, sok-sokan ke dokter
Nah kalo sakit jantung? Kolesterol? Haha… Udah deh, orang miskin nggak usah belagu, bagiannya orang kaya itu.

Dan kamu tahu ini?
$ Rp € ¥
Jadi nih ya, kesannya cuma orang berduit doang yang berhak punya dunia. Bahkan dunia maya sekalipun.

Seksian dan Teriasin

14 Maret 2011

Wisata Batik #2 :: Wedelan, Artistik Kuno

Seperti yang udah saya janjikan sebelumnya, ini adalah tujuan kedua dari wisata batik yang udah diawali sama batik printing di postingan sebelumnya.
Yupz, Batik Wedelan, masih di kawasan Cagar Budaya, Kampung Batik Laweyan, tepatnya di Jl.Sidoluhur Setono Laweyan. Nama Batik Wedelan diambil dari proses pewarnaan batik tradisional kuno. Tujuan pemberian nama Wedelan, selain nama tersebut merupakan nama yang clasic nama tersebut juga mempunyai tujuan mengingatkan kita bahwa proses pewarnaan pertama dari batik tradisional tempo doeloe adalah wedel. Warna wedel adalah warna biru tua yang dihasilkan dari daun indigo atau sebutan lain daun tom, dimana daun tersebut banyak tersebar di bumi nusantara ini.
Wedelan ini adalah salah satu rumah batik yang memiliki showroom dengan tata letak unik, nuansa kuno yang kental dan nyaman. Dari pintu depan udah keliatan banget nuansa kuno dari daun pintu dan ukiran kayu di atasnya. Pas banget dengan tagline nya “akan Anda dapati belanja batik dengan nuansa kuno”
Masuk pintu, kita akan menemukan pemandangan toko batik yang unik, seperti hunian pribadi. Pintu depan gerai dibuat full kaca, etalasenya pun dibuat sedemikian ramah. Di teras terdapat beberapa kursi yang terlihat homey banget, mau kita duduk disana berjam-jam terasa nyaman aja gitu.
Masuk ke showroom, kita akan disambut dengan segala jenis bebatikan. Penataan barang yang rapi ditambah dengan pemanis di beberapa sudutnya membuat pemandangan di ruangan ini ga terlihat annoying meskipun barang dagangannya lumayan banyak.

Sedikit bocoran, di Wedelan ini jenis pakaian yang dijual lumayan komplit dan desainnya pun juga ga ketinggalan jaman. Selain itu, harganya juga masih terbilang terjangkau. Dan saya asli kepincut sama blazer-nya. Ada yang mau mensponsori? =)

12 Maret 2011

Wisata Batik #1 : Batik Printing

Oke, saya tidak berhak berdiam diri tanpa menulis ketika segerombol agenda keliling-keliling bertubi-tubu menyerang saya.
“Ma, temenin kesini yuk. Ma, tak ajakin kesana yuk. Eh besok lagi ya.” Yah beginilah untungnya orang yang suka digaet kemana-mana. Haha…
Ceritanya, kemaren hari kalau ga salah tanggal 4 Maret (lumayan kelewat basi sih ya sebenernya) saya diajakin temen buat survey segala hal tentang batik buat kelangsungan hidup skripsinya. Karena mumpung ada kesempatan dan mumpung lagi liburan kuliah juga, saya jabanin deh. Menujulah kami ke Kampung Batik Laweyan. Tujuan pertama adalah usaha batik yang dipunyai oleh saudaranya temennya temen saya. Berhubung saya rada-rada bego waktu itu karena kepanasan, saya jadi lupa nanyain brand-nya apa. Haha.. Itu yang bikin saya nyesel sampai sekarang. Padahal disana diperlihatkan segala proses tentang batik printing. Mulai dari proses pewarnaan mori, printingnya sendiri, cuci sampai pada tahap pemotongan.
Jadi ceritanya bikin batik printing itu begini….
Mulai dari pewarnaan mori. Mori yang awalnya putih bersih dikasih warna yang nantinya warna itu jadi warna dasar. Nah kalau udah diwarna tinggal dicetakin motif batik di atasnya. Prosesnya kayak gini nih…
Nah kalau udah dicetakin batik kayak di atas, dijemur dulu beberapa waktu. Kalau udah kain yang panjang itu dicelupin ke air buat ngilangin obat pewarnanya. Dan airnya itu musti panas biar bisa bener-bener ilang obatnya.
Itu ceritanya foto para Pakdhe yang lagi nyuci kain. Maaf gambarnya rada-rada annoying =)
Trus kalau udah dicuci bersih, diangkat deh. Selanjutnya kain itu dimasukin ke mesin penguap (biasanya dibilang steam) buat ngawetin warnanya biar ga cepet ilang.
Proses mau masukin ke mesin steam
Steam selesai dan jadilah batik printing yang siap dipasarkan. Batik printing ini biasanya banyak dipakai buat sarung bantal, sarung guling, sprei dan beberapa pakaian yang biasanya dijual dengan harga menengah ke bawah. Kemarin sempet ngobrolin juga tentang marketnya batik printing ini. Katanya musim ini sedang sepi, peminat batik lebih banyak tertarik ke batik tulis dan cap atau kombinasi.
“Kalau sekarang lagi sepi Mbak. Kalau ramai semuanya ini penuh (sambil menunjuk meja-meja panjang tempat printing). Kalau sepi kayak begini ya paling Cuma jalan barang 1-2 meja saja,” kata Bapak Baik Hati yang saya tidak tahu namanya.
Jadi kurang lebih seperti itu tadi proses pembuatan batik printing. Memang, batik printing ini terlihat gampang dibandingkan dengan batik cap bahkan batik tulis. Tapi tetap saja, kalau motifnya menarik dan penempatannya pas bisa bikin peminat batik tergandrung-gandrung karenanya. Masih ada beberapa lokasi wisata batik Laweyan lain yang bakalan saya update disini.
Salam batik, the spirit of art =)

22 Februari 2011

E-Love Story #25 : Catatan Untuk Dewa



Yep yep yep. This is it! My 1st Anthology bersama teman-teman dari NulisBuku.

It’s all about happy online love story, dan inilah persembahan cinta dari kami :
  • Bianglala Langit Senja, Sudomo
  • Mawar 1 Megabyte, Nastiti
  • Sejoli Pencinta Blog, Tri Wahyuni
  • Sebelum Kita Bertemu, Vira Cla
  • Terkoneksi, Anindya Paramaarti
  • Meski, Aku Tidak Melihatmu, Refica Ds
  • Valentine, Aku , Dia & Bintang, Lavina Sabila
  • Mpeet, Gadoell
  • Cinta Yang Diam, Dewi Novi A. Liedany
  • Catatan Untuk Dewa, Emma Vixel
  • Fay & Nino, Valencia
  • Cintaku Di Merah Putih, Manda Rama Kristiani Hutabarat
  • I Found My Love At Happy-Stalker.Blogspot.Com, Firda Olivia
  • Hati Yang Memilih, Aninda Putri
  • Yang Maya Itu Jadi Nyata, Non Inge

Bolehlah kasih sedikit bocoran Catatan Untuk Dewa-nya. Simak ya…

“Ras, aku memang mencintaimu, sangat mencintaimu. Tapi maaf, aku juga menyayanginya.”
Dewa berkata dengan bibir bergetar. Semua keresahan yang aku rasakan belakangan ini terjawab sudah. Tentang Dewa yang berubah, tentang pikiran-pikiran negatifku dan tentang catatan untuk Dewa ketika hujan itu. Aku menangis sejadi-jadinya dan berlari meninggalkan mereka dengan luka menyeruak bertabur garam. Perih.


Udah segitu aja yah… =)


Untuk Order E-Love Story #25 ini dapat melalui email, caranya:

kirim email ke writers4indonesia@gmail.com
Format Email-nya seperti ini:
Subject: Order E-Love Story #25
Isi:
nama penerima:....
Alamat lengkap: ….
nomor telepon: …
Harga buku : ….
jumlah buku: ….

Murah kok, cuma dengan Rp 45.000,- (belum termasuk ongkos kirim) kamu bisa dapetin cerita-cerita seru sekaligus beramal karena royalti dari penjualan buku E-Love Story ini akan di sumbangkan untuk kegiatan sosial.
Jadi, mari tebarkan cinta dengan membantu sesama =)

12 Februari 2011

Sekaten dan Gengsi

Terlepas dari omongan-omongan negatif tentang Sekaten, akulturasi nilai, penggerusan makna, or whatever. Pure just wanna share a story.




“Kembang kantil’e wuk, monggo… Kersane ayu…” (bunga kantilnya, nak. Biar cantik) kata nenek-nenek yang duduk di bawah pohon di pelataran Masjid Agung sambil menata bunga kantil, tembakau dan daun sirih di atas tenggoknya

Ini adalah pertama kalinya saya berbaur kembali dengan hiruk pikuk Sekaten setelah kira-kira 14 tahun tidak pernah menjamahnya, kecuali hanya lewat di jalan sekitar Keraton Kasunanan Surakarta dengan umpatan tanpa jeda karena jalan macet akibat pejalan kaki (pengunjung Sekaten), becak dan para pedagang di pinggiran, juga kereta kelinci.

“Mboten Mbah, maturnuwun. Kula sampun ayu oq…” (makasih nek, saya udah cantik kok) Saya menjawab dengan senyum bergurau sambil mengelap keringat dan berlalu tanpa berhenti sebentar pun.

Atmosfer yang saya rasakan ketika pertama kali menginjakkan kaki di pelataran Masjid Agung kali ini, benar-benar beda dari hanya sekedar atmosfer pasar. Seperti dejavu. Terasa ada beberapa tokoh –yang entah itu siapa saja- menyambut saya, “Hai teman, selamat datang kembali. Sudah lama sekali ya kita tidak bertemu.” Lalu berkisah, “Kamu ingat tidak sama mainan pecut itu? Trus kamu pernah makan bakso disana kan? Nah disana juga, kamu suka sebel kalau diajak lihat gamelan.” Ya, sounds like a guide of a past. Dan faktanya memang seperti itu, pelataran ini masih sama dengan ketika saya masih berumur tujuh tahun. Jadi bukan suatu hal yang perlu diherankan jika saya begitu mudahnya berpapasan dengan masa lalu, bahkan terlibat di dalamnya.

“Nggih neknu kersane tambah ayu…” (kalau gitu biar makin cantik) lanjut si nenek, tidak mau menyerah begitu saja merayu manusia bebal menyebalkan macam saya.

“Kagem Sibune, kersane awet enem,” (buat ibunya, biar awet muda) sasaran si nenek berpindah haluan dari gadis menuju ibu-ibu, dari saya menuju tante saya. Dan hasilnya sama saja, boro-boro menanggapi, menoleh saja tidak, ternyata tante saya lebih kejam daripada saya.

“Hahaha… Trus apa coba hubungannya kembang kantil sama awet muda?” Iya, saya sempat menertawakan sesuatu yang tidak sepantasnya saya tertawakan.

“Ya itu kan cuma mitos, Ma. Kalau pakai bunga kanthil jadi makin cantik, kalau makan daun sirih bikin awet muda. Beli telur asin (endhog amal : jawa) biar bisa beramal terus, itu cambuk (pecut : jawa) juga, buat mecutin orang-orang yang ga mau sholat,” kata tante.

Oh, Jadi ternyata semua yang dijual di pelataran ini punya mitos sendiri-sendiri. Ironis! Sebagai orang Solo ASLI, saya baru tahu tentang cerita-cerita itu.

Sesampainya di rumah, saya iseng browsing sana-sini-sono, pengen tahu tentang mitos-mitos dagangan yang dijual di pelataran Masjid Agung itu. Hasilnya ini :

  • Sirih dan Perlengkapannya. Banyak yang percaya, siapa yang mengunyah sirih pada saat pertama kali gamelan dibunyikan, orang tersebut akan awet muda. Bila ditilik secara medis, sirih memiliki kemampuan untuk memberi zat yang bermanfaat bagi tubuh dan penguat gigi.
  • Telur amal / telur asin. Telur amal / asin biasa dijual diarena stand sekaten, disini dipercaya oleh masyarakat kalau membeli telur asin maka kita memberi amak pada pembeli, juga segala amal kebaikan kita diterima oleh Tuhan
  • Pecut dan Ani-ani. Pecut dipercaya dapat mengusir hama tanaman dan roh jahat yang berusaha menyerang ternak dan tanaman. Pecut juga bermakna sebagai semangat untuk berbuat lebih baik. Ani-ani adalah alat untuk mengetam atau memanen padi yang bermakna harapan dan keberhasilan panen. Mitos ini hanya melambangkan kegiatan kehidupan agar selalu bekerja keras dan berbuat hal yang baik agar memetik hasil yang lebih baik
Dan ternyata tante saya rada-rada sotoy, terbukti ada beberapa yang dibikin-bikin sendiri arti mitosnya. Yah, daripada ga tau sama sekali kayak saya =)
Awalnya, waktu mau masuk ke gerbang alun-alun setelah memarkirkan motor, saya sempat nyengir geli liat orang-orang yang dalam cuaca panas-hujan-nggak-bisa-diprediksi kayak gini begitu antusias dan bergairah. Ibu-ibu dengan anak kecil digendongannya, sepasang kakek-nenek, anak sekolah yang ngejadiin Sekaten buat tempat gandengan tangan, anak-anak muda seumuran saya yang berjalan cekakak-cekikik bergerombol yang salah satunya berkalung SLR (how poor I am, jalannya sama tanteh-tanteh beranak limataon). Intinya saya amat sangat malas sekali jika ada orang yang mengajak saya ke sekaten. Sampai pada akhirnya mata saya menjadi blin-blink ketika lihat tulisan “obral tas 15.000”, setelahnya langkah saya menjadi ringan, entah kenapa, padahal minat beli juga enggak.

Next, ini adalah bagian yang paling saya benci. Keponakan saya merengek naik kincir atau apalah namanya, pokoknya mainan yang muter-muter dari bawah ke atas trus ke bawah lagi, bentuknya kayak kincir angin. Dan tante saya juga ikut merengek-rengek suruh saya ikut naik. Asli panik bukan main waktu itu kincir mulau bergerak ke atas. Besi-besinya yang udah pada karatan, suara gesekan entah yang berderit bikin gatal telinga, ditambah mesin diesel yang memprihatinkan, itu semua membuat saya tidak yakin bisa bertahan hidup di putaran kedua *lebe*. Dan benar saja, entah di putaran berapa saya lupa, diesel tiba-tiba ngadat, sedangkan posisi saya berada di tempat paling atas, paling puncak.

“God, please save me from the hell!”

Sementara keponakan saya cengengesan nggak jelas, tante dan saya nggak habis-habisnya panik. Saya semakin bergetar hampir demam dan muntah-muntah, keringat dingin juga mimisan *lebelagi* waktu ada angin yang lumayan gede nyemprot ke tempat duduk kami, bergoyanglah, dan memohon ampunlah saya kepada Yang Kuasa. Ya, badai pasti berlalu, saat-saat menegangkan itu berlalu seiring perkembagan zaman :lol:. Setelah saya analisa, saya menemukan penyebab terancamnya nyawa saya, yaitu tiket yang cuma gocengan =D

Satu pelajaran yang bisa saya ambil dari sini bahwa Gengsi merupakan awal dari lunturnya kebudayaan.